Perdebatan Kia’i Kampung dengan Santri Liberal

Inilah kisah kia’i kampung, kebetulan kia’i kampung ini imam musholla di desanya, suatu ketika kia’i ini di datangi seorang tamu, yang mengaku santri liberal, karna ia lulusan pesantren modern dan pernah mengenyam pendidikan di Timur Tengah, “katanya sehhh..!!

Tamu itu begitu PDB “Percaya Diri Bangettzzz”, karena merasa mendapat legitimasi akademik, plus telah belajar Islam di tempat asalnya. Sedang yang di hadapinya hanya seorang kia’i kampung, yang lulusan pesantren salaf.

Tentu saja, tujuan utama tamu itu mendatangi kia’i untuk mengajak debat dan berdiskusi seputar persoalan keagamaan kia’i, santri liberal ini langsung menyerang sang kia’i dengan berkata, “Sudalah kia’i tinggalkan kitab-kitab kuning (turats) itu, karna itu hanya karangan ulama kok, kembali saja kepada al-Qur’an dan hadis,” ujar santri itu dengan nada menantang. Belum sempat kia’i itu menjawab, kia’i kampung itu pun dicecar dengan pertanyaan berikutnya. “Mengapa kia’i kalau berdzikir kok dengan suara keras dan pakai menggoyangkan kepala ke kiri dan ke kanan segala, kan itu semua tidak pernah terjadi pada jaman Nabi dan berarti itu perbuatan bid’ah,” kilahnya dengan nada yakin dan bersemangat.

Mendapat cecaran pertanyan, kia’i kampung itu tidak langsung reaksioner bin reaksi alias beraksi, malah sang kia’i itu menyuruh anaknya mengambil termos dan gelas.

Kia’i tersebut kemudian mempersilahkan minum, dan tamu tersebut kemudian menuangkan air kedalam gelas, lalu kia’i bertanya, “kok tidak langsung diminum dari termos saja, mengapa dituang ke gelas dulu?,” tanya kia’i santai. Kemudian tamu itu menjawab, “ya ini agar lebih mudah diminumnya kia’i,” jawab santri liberal ini.https://catataniwariot.wordpress.com

Lalu kia’i kampung pun memberi penjelasan, “itulah jawabannya mengapa kami tidak langsung mengambil dari al-Qur’an dan hadis. Kami menggunakan kitab-kitab kuning yang mu’tabar, karna kami mengetahui bahwa kitab-kitab mu’tabarah adalah diambil dari al-Qur’an dan hadis, sehingga kami yang awam ini lebih gampang mengamalkan wahyu, sebagaimana apa yang engkau lakukan menggunakan gelas agar lebih mudah meminumnya, bukankah begitu?.” Tamu tersebut terdiam tak berkutik.

Kemudian sang kia’i pun balik bertanya, “Apakah adik hafal al-Qur’an dan sejauh mana pemahaman adik tentang al-Qur’an? dan berapa ribu adik hafal hadis? kalau dibandingkan dengan Imam Syafi’iy siapa yang lebih ‘alim?. “Santri liberal ini pun menjawab, “ya tentu Imam Syafi’iy lah kia’i, sebab beliau sejak kecil sudah hafal al-Qur’an, dan beliau juga banyak mengerti dan hafal ribuan hadis, bahkan, umur 17th beliau sudah menjadi guru besar dan mufti,” jawab santri liberal ga mau kalah, dan perdebatan pun semakin seru..

Lalu kia’i kampung pun menimpali,” itulah sebabnya mengapa saya harus bermadzhab pada Imam Syafi’iy, karena saya percaya pemahaman Imam Syafi’iy tentang al-Qur’an dan hadis jauh lebih mendalam dibanding kita, bukankah begitu?,” tanya kia’i.
“Ya kia’i,” jawab santri liberal.https://catataniwariot.wordpress.com

Dan kemudian kia’i pun bertanya lagi kepada tamunya itu, “Terus selama ini orang-orang awam tatacara ibadahnya mengikuti siapa, jika menolak madzhab, sedangkan mereka banyak yang tidak bisa membaca al-Qur’an, apalagi memahami?,” tanya kia’i. Dan sang santri liberal pun menjawab, “kan ada lembaga majelis yang memberi fatwa, yang mengeluarkan hukum-hukum dan masyarakat awam pun akan mengikuti keputusan tersebut,” jelas santri liberal dengan PD-nya.     https://catataniwariot.wordpress.com

Kemudian kia’i bertanya balik, “kira-kira menurut adik lebih alim mana, anggota majelis fatwa tersebut dengan Imam Syafi’iy ayoo??, “tanya kia’i dengan senyum kecil. Lalu santri liberal pun menjawab, “Ya tentu alim Imam Syafi’iy lah kia’i,” jawabnya singkat. Kia’i kembali menjawab, “Itulah sebabnya kami bermadzhab kepada Imam Syafi’iy dan tidak langsung mengambil dari al-Qur’an dan hadis,”. “Oh begitu, masuk akal juga ya kia’i!!,” jawab santri liberal ini dengan menganggukkan kepalanya. dan santri liberal ini pun tidak berkutik.https://catataniwariot.wordpress.com

Lalu setelah santri liberal ini tidak berkutik dengan kia’i kampung, akhirnya santri yang lulusan Timur Tengah ini pun meminta ijin untuk pulang dan sang kia’i pun mengantarkan sampai pintu pagar.

Sepenggal kisah ini saya kutip dari buku risalah diwaktu saya mengaji dulu hanya untuk sekedar mengingatkan saya ataupun yang membaca postingan ini agar kita dapat saling menghargai, bahwa meskipun kita bertitel tinggi bukan berarti kita yang paling betul dan paling benar dalam segala urusan..

Iklan

Terima kasih untuk jejak yang anda tinggalkan...!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s