Kisah Kepahlawanan Seorang Ibu

Goresan kali ini adalah kisah nyata seorang gadis yang bernama Uti yang berparas cantik, manis dan rupawan, Uti yang merupakan anak tunggal ini memang dikenal rajin, cerdas dan menawan oleh teman-teman yang mengenalnya.

Beberapa tahun lalu iya lulus dari salah satu universitas swasta di Jakarta dan sekarang sudah bekerja di salah satu perusahaan menjadi seorang manager dengan pendapatan yang agak lumayan. Dirinya yang humoris dengan gaya hidup yang sederhana membuat banyak teman-teman kantornya senang bergaul dengannya, terutama dari kalangan pria jomblo, bahkan anak putra dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja menaruh perhatian khusus kepadanya.

Uti tinggal tidak terlalu jauh dari kantornya, dan dirumahnya ada seorang wanita tua yang wajahnya sangat mengerikan sekali, sebagian kepalanya botak dan kulit kepalanya terlihat seperti luka yang baru sembuh dan mengering, rambutnya pun hanya tinggal sedikit dibagian kiri dan belakang, tergerai seadanya wajahnya juga cacat seperti luka bakar.

Wanita tua itu benar-benar menakutkan secara fisik, kalau tidak ada keperluan penting wanita tua itu jarang keluar kamar, apalagi rumah. Wanita tua ini tidak lain adalah ibu kandungnya Uti.

Walau pun demikian, ibunya selalu melakukan pekerjaan rutin layaknya ibu rumah tangga lainnya yang sehat dan juga selalu memberi perhatian yang besar kepada Uti, anak semata wayangnya ini. Namun demikian Uti adalah anak gadis yang normal seperti anak gadis lainnya.

Kondisi ibunya yang cacat dan menyeramkan itu membuat Uti cukup sulit untuk mengakuinya. Setiap kali ada teman atau kolega bisnisnya bertanya, siapa wanita cacat yang berada dirumahmu ?.  Uti pun selalu menjawab bahwa wanita itu adalah pembantu yang dulu ikut dengan ibunya sebelum ibunya meninggal. “Dia tidak punya saudara, jadi saya suruh tinggal disini, kasihan.” Jawab Uti dengan enteng.

Hal ini pun sempat terdengar dan diketahui oleh ibunya. Begitu mengetahui ibunya sangat sedih sekali, tetapi ibunya tetap diam dan menelan getirnya ludah pahit dalam hidupnya. semenjak mendengar perkataan Uti ibunya jadi jarang keluar dari kamarnya, Ibunya takut jika Uti sulit untuk menjelaskan pertanyaan dari teman-temannya mengenai ibunya.

Hari demi hari kemurungan ibunya semakin menjadi, hingga suatu ketika ibunya jatuh sakit yang cukup parah dan tidak kuat bangun dari ranjangnya. Uti pun mulai kerepotan mengurusi rumah, menyapu, mengepel, mencuci pakaian dan menyiapkan segala keperluan sehari-hari yang biasanya dikerjakan oleh ibunya. Selain itu Uti juga harus menyiapkan obat-obatan untuk ibunya sebelum dan sesudah pulang kerja.

Kejadian itu membuat Uti sering uring-uringan dirumah, tiba lah pada saatnya Uti sedang mencari sesuatu dan mengacak-acak lemari ibunya, tanpa sepengetahuan ibunya Uti menemukan sebuah box kecil, setelah dibuka bukannya sebuah perhiasan yang ada, tetapi berisikan sebuah foto dan potongan koran yang sudah usang, tepatnya foto yang berukuran postcard seorang wanita cantik, lalu potongan koran usang itu bertuliskan tentang seorang wanita berjiwa pahlawan yang telah menyelamatkan anaknya dari musibah kebakaran. Dengan mendekap erat anaknya sambil menutup dirinya dengan sprei basah, wanita itu menerobos api yang sudah mengepung rumahnya, dan wanita cantik itupun menderita luka bakar yang cukup serius, sedangkan anak dalam dekapannya tidak terluka sedikit pun.

Walau sudang usang Uti cukup dewasa untuk mengetahui siapa wanita cantik didalam foto itu dan siapa wanita pahlawan yang dimaksud dalam potongan koran itu, ia tidak lain adalah ibu kandungnya sendiri, seorang wanita yang kini sedang terbaring sakit dan tak berdaya. Spontan tanpa bisa dibendung Uti pun meneteskan air mata hingga membasahi sekujur pipinya, sambil menggenggam foto dan koran yang telah usang itu. Dan Uti pun langsung bersujud disamping ranjang ibunya yang sedang terbaring lemah, sambil menahan tangis Uti pun meminta maaf dan memohon ampun atas dosa-dosanya selama ini, dan ibunya pun ikut menangis terharu dengan perubahan dan ketulusan hati Uti.

Setelah ibunya sembuh Uti pun memberanikan diri untuk mengajak ibunya berbelanja ke supermarket, walau menjadi pusat perhatian banyak orang. Uti tetap tidak perduli. Karana bagi Uti biar bagaimana pun ia tetap seorang ibu yang telah melahirkannya, merawatnya, dan menyelamatkannya, Uti pun ingin mengganti waktu yang sudah dia sia-siakan terhadap ibunya dengan berbakti dan mengurusnya.

Sepenggal goresan di atas mencerminkan sebuah pesan untuk gw dan juga untuk kita-kita yang masih punya ibu, walau bagaimana pun kondisinya segeralah bersujud dihadapannya selagi masih ada waktu, dan jangan sia-siakan jasa ibu kita yang selama ini sudah merawat dan membesarkan kita tanpa pamrih, coz kasih sayang ibu itu sungguh mulia, dan ketulusan cinta seorang ibu terbukti mampu merubah apapun menjadi lebih baik dan bermanfaat di kemudian hari.. “Semoga kita menjadi anak-anak yang berbakti kepada orang tua” Amin..

Iklan

11 komentar

  1. aku meneteskan air mata,, astaghfirullah al adzlm,, aku minta maaf ibu belum bisa membahagiakan mu

    1. terimakasih yancha sudah membaca kisah ini semoga kita selalu mendapatkan hidayah-NYA.. Amin

Terima kasih untuk jejak yang anda tinggalkan...!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s