Potret Buram Saudaraku

Wajah lusuh beralaskan selendang usang
Mananti serpihan sisa pengharapan
Dibalik letihmu kau berteriak
Diantara terik mentari engkau manangis
Bukan untukku
Juga bukan untuk mereka
Tetapi untuk jiwa-jiwa yang penuh belas kasih

Enggan aku melihat potret ini
Seperti berjalan di antara ribuan butiran air mata
Mereka yang menantang matahari
Aku yang seperti terbakar
Mereka yang menangis
Air mataku yang terkuras habis

Jiwa-jiwa lusuh di antara ribuan debu
Menantang kerasnya kehidupan kota
Menanti malaikat-malaikat pemberi berkat
Namun sifat acuh dari jiwa-jiwa angkuh yang kau dapat

Setiap helai nafasmu adalah do’a
Setiap tetesan keringatmu adalah penantian
Dan setiap letihmu adalah pengharapan
Semoga Allah selalu memberi rizkinya untukmu saudaraku

Iklan

5 komentar

  1. Ingatlah mereka agar kita pandai bersyukur dgn bersedekah…

  2. sangat memilukan sobat, apalagi buat ku pribadi, teringat saat 2003-2006 silam, saat sering kulihat potret jalanan bersamaku disana.

    1. bener zass semoga saja kita-kita ga pernah melupakan mereka apalagi dibulan yang penuh barokah ini..

      1. Amin… apalagi dengan membaca sajakmu ini sobat, paling tidak kita teringat akan mereka…. 🙂

      2. wahh bagus dehh zass kalau kita-kita bisa teringat atas tulisan saya ini.. semoga jadi amal ibadah untuk mengingatkan amin

Terima kasih untuk jejak yang anda tinggalkan...!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s