Hentikan Kekerasan Terhadap Wanita

HKTP

Setiap hari gue lihat berita kekerasan dan pelecehan terhadap wanita terus saja terjadi dan menurut gue ini sudah merupakan fenomena yang universal, yang tidak saja bersifat endemik tapi juga bersifat pervasif dan terjadi sepanjang masa hidup perempuan bahkan kekerasan berbasis jender ini seperti perkosaan, kekerasan domestik, mutilasi, pelecehan sexual dan pembunuhan ini benar-benar masalah yang serius yang di hadapi perempuan dan ini sangat teragis menurut gue dan seharusnya ini sudah bisa di hentikan bahkan seharusnya tidak ada lagi.

Tapi kenapa setiap hari masih saja terjadi, dan kita sebagai manusia sudah seharusnya lebih sensitif dan peka terhadap kekerasan ini bukan hanya jadi penonton setiap adegan yang sudah terjadi lewat tv dan media.

Dan dari cerita Julia Suryakusuma yang gue baca, bahwa sifat “tak kasat mata” dari kekerasan perempuan atau di sebut juga “KTP” di sebabkan terutama karena adanya pemisahan artifisial antara kehidupan publik dan privat dan antara kegiatan produktif dan reproduktif. Pemisahan ini tidak kondusif untuk pemahaman mengenai kekerasan terhadap perempuan, dan bahkan sangat menghambat pemahaman serta pemecahan terhadap masalah kekerasan terhadap perempuan.

“Namun kenyataannya masyarakat modern memang di atur berdasarkan pemisahan-pemisahan tersebut. KTP seringkali tersembunyi karena mayoritas dari tindakan kekerasan tersebut dilakukan di dalam sektor pribadi atau domestik, yang di identikan dengan perempuan,” katanya

Hal itu juga, kata Julia, di sebabkan karena sikap terhadap hubungan laki-laki dan perempuan, berbagai tabu sosial yang membicarakan ‘masalah pribadi’ di muka umum, dan karena setiap masyarakat memang memiliki mekanisme khusus untuk melegitimasi, mengaburkan, menutupi, menolak dan dengan begitu, berarti melanggengkan KTP. “Walaupun kekerasan terhadap perempuan di kutuk, nyatanya institusi sosial keluarga, lembaga pendidikan dan agama, norma-norma tradisional dan negara semua berkomplot untuk menjaga status quo, dengan cara mempertahankan kekeramatan privasi rumah tangga,” katanya.

Sementara definisi kekerasan terhadap perempuan yang dilakukan negara tak terbatas pada tindak kekerasan fisik yang dilakukan oleh aparat negara atau militer, tapi juga kekerasan yang di restui oleh negara maupun kekerasan yang di alami perempuan akibat ketidak pedulian atau kelalaian. Selanjutnya negara juga bertanggung jawab atas kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan terhadap tenaga kerja wanita dan di tempat kerja.

“Kelalaian negara dalam menyediakan peraturan atau Undang-undang dan perlindungan yang memadai bagi perempuan dan peran negara dalam melanggengkan seksisme dalam kebijakan negara, membuatnya bertanggung jawab terhadap korban kekerasan terhadap perempuan di sektor-sektor ini,”

Dalam kagiatan ini, Rita Serena Kalibonso dari mitra perempuan menyatakan bahwa kekerasan terhadap perempuan sebagai kekerasan berbasis jender merupakan salah satu bentuk diskriminasi terhadap perempuan

Sementara masalah utama yang berkaitan dengan hukum, berpusat pada tidak adanya hukum yang secara khusus memberikan perlindungan bagi perempuan yang menjadi korban kekerasan. “Bahkan istilah kekerasan terhadap perempuan tidak di kenal dalam hukum Indonesia, meski fakta kasus ini marak terungkap di berbagai penjuru Indonesia,” Katanya

Iklan

Terima kasih untuk jejak yang anda tinggalkan...!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s